Free To Wander

OUR CLUB

HISTORY
FREE TO WANDER

Free To Wander berawal dari sekumpulan anak motor yang awalnya hanya ingin riding bareng dan menikmati jalan, tanpa tujuan besar dan tanpa niat membentuk sebuah club. Semuanya dimulai dari Adit, yang kini menjadi President Free To Wander sekaligus Founder pertama. Saat itu, Adit sering riding bersama dua orang, lalu berkembang menjadi tujuh orang, dan seiring waktu jumlahnya terus bertambah.

Perkembangan ini banyak terjadi lewat media sosial. Salah satunya ketika Uta menghubungi Adit melalui DM Instagram. Dari situ, Adit dan Uta mulai sering bertukar pikiran, ngobrol soal arah riding bareng ini, dan pelan-pelan membahas identitas yang mulai terbentuk.

Karena jumlah rider semakin banyak, Uta mengusulkan kepada Adit untuk membuat sebuah logo. Saat itu, nama grup WhatsApp kami masih Gazz Tipsy Tipsy, dan logo pertama yang dibuat pun menjadi identitas awal dengan nama Free To Wander Gazz Tipsy Tipsy.

Di fase ini, Adit dan Uta sama sekali belum memikirkan soal club atau komunitas resmi. Semuanya masih murni untuk senang-senang, riding bareng, tanpa struktur, tanpa aturan, dan tanpa arah yang jelas.

Setelah logo pertama dibordir dan mulai dipakai, kami mulai mendapat banyak masukan dan pertanyaan dari orang-orang sekitar. Pertanyaan yang paling sering muncul adalah,
“Ini mau dibawa ke mana, ke arah club atau cuma komunitas saja?”

Pertanyaan itu membuat Adit dan Uta mulai sadar bahwa Free To Wander sebenarnya punya potensi lebih besar dari sekadar grup riding. Di saat yang sama, kami juga menyadari bahwa penggunaan name tag dan atribut masih tidak beraturan, karena memang belum ada arah yang jelas.

Dari situ, Adit dan Uta mengajak para member terlama untuk duduk bersama dan berdiskusi soal masa depan Free To Wander. Mereka adalah Adit, Uta, Alwi, Rafli, Aldy, Azka, Sultan, dan beberapa lainnya. Hasil dari diskusi tersebut adalah satu keputusan penting: Free To Wander akan mulai membangun diri menuju sebuah Motorcycle Club, dengan struktur jabatan, aturan, ADART, dan nilai persaudaraan yang jelas.

Untuk sementara, posisi President dan Vice President dipegang oleh anggota terlama. Keputusan ini diambil agar Free To Wander tetap dijalankan oleh orang-orang yang benar-benar memahami perjalanan, pondasi, dan karakter di dalamnya, supaya persaudaraan tetap terjaga.

Pada 1 Juni 2025, Free To Wander meresmikan logo baru dan mengundang beberapa club dari Jakarta. Bukan sekadar perayaan, tapi sebagai bentuk mempererat persaudaraan sekaligus memperkenalkan bahwa Free To Wander kini memiliki identitas dan arah yang lebih jelas.

Saat ini, Free To Wander bukan komunitas biasa dan belum menjadi MC. Kami adalah sebuah Club yang sedang membangun pondasi menuju MC dengan cara yang benar. Kami percaya bahwa patch MC adalah simbol yang sakral, dan Free To Wander belum pantas memakainya sebelum nilai, disiplin, dan mental seluruh member benar-benar siap.

Free To Wander juga memiliki karakter dan spesifikasi motor yang jelas. Setiap member wajib menggunakan motor minimal 150cc ke atas, dan bukan motor classic. Gaya motor yang kami terima adalah custom bike, seperti bobber, cruiser, chopper, cafe racer, British style, dan aliran lain sejenis. Yang terpenting, motor tersebut bukan motor classic, karena identitas Free To Wander dibangun dari karakter custom dan kebebasan berekspresi.

Kami memilih untuk berjalan pelan, tapi pasti. Fokus kami adalah membangun loyalitas, solidaritas, etika riding, dan pemahaman budaya MC kepada setiap member.

Karena bagi kami, patch MC bukan sekadar simbol.
Patch MC adalah kehormatan.
Dan Free To Wander akan mengenakannya ketika kami benar-benar pantas.

hierarchy
Free To Wander

Adit

Presidente

Uta

Vice Presidente

Khardul

Herd Guard

Black

Herd Guard